BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Berbicara masalah
filsafat, tidak akan lepas dari berbicara tentang Manusia, karena manusia
merupakan salah satu dari objek filsafat, baik filsafat umum, filsafat
pendidikan maupun filsafat Pendidikan Islam. Sesungguhnya manusia
diciptakan oleh Allah SWT tidak lain hanya untuk mengabdi dan beribadah. Dan
juga bertugas untuk mengemban amanah untuk mengelola dan memamfaatkan kekayaan
yang terdapat di bumi agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur lahir dan
batin. Begitu spesialnya manusia diciptakan oleh allah SWT. Dengan diberinya
potensi, maka manusia dapat berpikir dan memngembangkan potensi yang terdapat
pada dirinya. Mengembangkan potensi tersebut salah satunya melalui dunia
pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut, maka makalah ini akan membahas tentang hakikat
manusia, manusia menurut beberapa ahli, implikasi konsep manusia dalam
pendidikan islam, prinsip-prinsip yang
menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia, serta tanggung jawab manusia
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
hakikat manusia itu sendiri ?
2. Bagaimana
konsep manusia menurut beberapa ahli ?
3. Bagaimana
implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam ?
4. Apa
saja prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia ?
5. Apa
saja tanggung jawab manusia ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui bagaimana hakikat manusia itu sendiri.
2. Untuk
mengetahui bagaimana konsep manusia menurut beberapa ahli.
3. Untuk
mengetahui implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam.
4. Untuk
mengetahui prinsip dasar yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia.
5. Untuk
mengetahui tanggung jawab manusia.
D.
Metode
Penulisan
Adapun
metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah sederhana ini yaitu:
1. Metode
kepustakaan (Library Research).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Manusia
Hakikat
manusia perlu dibahas terlebih dahulu karena pendidikan yang kita dambakan itu
adalah untuk manusia. Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang
sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu
adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dalam
hal ini ada beberapa hal yang akan dibahas, yaitu Manusia Menurut Manusia, dan Manusia
Menurut Tuhan.
1.
Manusia
Menurut Manusia
Socrates
(470-399 SM), orang Athena mengungkapkan pemikirannya tentang manusia di
hadapan murid-muridnya. Diantara pemikiran tersebut antara lain bahwa pada diri
manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia.[1] Socrates
mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Kalimat
ini sangat dasar. Manusia mengatur dirinya, ia membuat peraturan untuk itu;
manusia mengatur dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri.[2]
Plato
merupakan salah satu murid Socrates. Menurut Plato, jiwa manusia itu ada sejak
sebelum lahir, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato
mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua yaitu rasio dan kesenangan
(nafsu). Menurut pendapat John Locke (1623-1704), manusia saat dilahirkan
laksana kertas bersih, kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang
diperoleh dalam hidupnya. Sedangkan menurut Immanuel Kant (1724-1804), manusia
adalah makhluk rasional, manusia itu bebas bertindak berdasarkan alasan moral,
manusia bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.
2. Manusia Menurut Tuhan
Menurut Al-Qur’an, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, manusia itu
berasal dan datang dari Tuhan. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu mempunyai
unsur jasmani (material). Sebagaimana diisyartkan dalam QS. Al-A’raaf ayat 31[3] :
“Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan.”
Di dalam surah
tersebut, Tuhan mengatakan bahwa makan dan minum bagi manusia adalah suatu
keharusan. Ini merupakan bukti bahwa manusia itu memiliki unsur jasmani.
Selanjutnya, unsur
hakiki pada manusia adalah akal. Akal banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an
dengan menggunakan kata-kata untuk mewakili konsep akal seperti nazara, tadabbara,
tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan aqala. Selain itu, aspek
lain yang menjadi unsur hakiki manusia adalah ruh atau ruhani. Penjelasan
Al-Qur’an tentang aspek ini terdapat dalam Al-Qur’an seperti dalam QS. Al-Hijr
ayat 29 :
Artinya : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersuju”
B. Manusia Menurut
Pandangan para Ahli
1. Manusia menurut Ilmu Antropologi
Kalangan antropologi
melihat manusia berdasarkan teori evolusi. Menurutnya, bahwa semua makhluk
termasuk manusia pada mulanya muncul dari suatu sel yang sangat sederhana,
kemudian berproses dan berevolusi secara bertahap menuju taraf yang lebih
sempurna, dan dalam proses evolusi tersebut terdapat hukum berjuang dan
bertahan untuk hidup (The Preservation of Favoured Rase in the Strugle of
Life, atau The Origin of Species by Means of Natural Selection), yakni
makhluk yang lemah dengan sendirinya akan hilang atau lenyap digantikan oleh
makhluk yang lebih kuat[4]. Dalam
teori tersebut, asal usul manusia berasal dari benda-benda tidak bernyawa yang
memiliki sel sangat sederhana, kemudian berubah menjadi tumbuh-tumbuhan,
kemudian berubah menjadi binatang, kemudian berubah menjadi makhluk yang
mendekati manusia, dan terakhir berubah menjadi manusia seperti sekarang. Teori
ini diperkenalkan oleh Charles Darwin (1809-1882) yang dipengaruhi oleh Lamarck
(1744-1829).
Dalam
perspektif sosiologis, terdapat empat aliran yang membahas manusia dari segi sosiologis[5],
yaitu :
a.
Aliran
serba zat
Aliran
serba zat ini mengatakan yang benar-benar ada itu hanyalah zat atau materi.
Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia itu adalah unsur dari alam. Maka
dari itu manusia adalah zat atau materi.
b.
Aliran
serba ruh
Aliran
ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia adalah ruh, juga
hakikat manusia adalah ruh, adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh
diatas dunia ini. Fiche mengemukakan bahwa segala sesuatu yang lain (selain
ruh) yang rupanya ada dan hidup hanyalah suatu jenis perumpamaan, perubahan
atau penjelmaan dari ruh[6].
Dasar pikiran aliran ini ialah bahwa ruh ituu lebih berharga, lebih tinggi
nilainya daripada materi. Hal ini mereka buktikan dalam kehidupan sehari-hari,
betapapun kita mencintai seseorang, jika ruhnya terpisah dengan badannya, maka
materi/jasadnya tidak ada artinya.
c.
Aliran
dualisme
Aliran
ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi
yaitu jasmani dan ruhani. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur
asal yang tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh,
dan ruh tidak berasal dari badan. Perwujudannya manusia tidak serba dua, jasad
dan ruh. Antara badan dan ruh terjadi sebab akibat yang mana keduanya saling
mempengaruhi.
d.
Aliran
eksistensialisme
Aliran
ini merupakan aliran filsafat modern yang berpikir bahwa hakikat manusia
merupakan eksistensi dari manusia. Hakikat manusia adalah apa yang menguasai
manusia secara menyeluruh. Disini, manusia dipandang tidak dari sudut serba
zat, serba roh, atau dualisme, tetapi dari segi eksistensi manusia di bumi ini.
Jika kita mengacu
kepada ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pedoman dasar dalam kehidupan muslim, teori
yang dikemukakan oleh Charles Darwin tersebut sangat bertentangan dengan proses
terciptanya manusia seperti yang diceritakan di dalam Al-Qur’an. menciptakan
manusia dari saripati yang berasal dari tanah sampai akhirnya menjadi makhluk
yang berbentuk sempurna.
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
2. Manusia menurut Ilmu Sosiologi
Kalangan sosiologi
menganggap manusia adalah makhluk hidup, dan kehidupannya tidaklah dapat
dipisahkan dari hidup berkelompok.
Pandangan kaum sosiolog tentang manusia ini sejalan dengan pendapat
Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan dalam teorinya, bahwa manusia adalah
“Zoon Politikon”, yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan,
atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama daripada hidup sendiri.[7]
Berdasarkan pandangan
tersebut, kami berpendapat bahwa manusia jika dipandang dari segi sosiologis
merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, kehidupan manusia itu
sendiri bergantung kepada orang lain, mereka membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya serta ikut melengkapi kekurangan-kekurangannya.
Hal ini serupa dengan kisah Nabi Adam a.s ketika masih di surga beliau meminta
teman untuk menemani hidupnya sehingga Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang
rusuknya untuk menjadi pasangan hidupnya sehingga menghasilkan
keturunan-keturunan Adam.
3. Manusia menurut Ilmu Psikologi
Menurut Morris L. Bigge dan Maurice P. hunt, bahwa manusia menurut ilmu
psikologi dapat dibagi menjadi tiga teori, yaitu teori disiplin mental, teori
behaviorisme, dan teori konvergensi.[8]
Menurut teori disiplin mental, bahwa sejak lahir seorang anak telah
memiliki potensi-potensi tertentu. Teori disiplin mental ini terbagi menjadi
tiga rumpun, yaitu disiplin mental theistik, disiplin mental
humanistik, dan disiplin mental naturalistik[9].
Teori disiplin mental theistik berasal dari Psikoogi Daya. Menuru teori
ini seorang anak mempunyai daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggap,
mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. Belajar merupakan sebuah proses
melatih daya tersebut sehingga dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan
berbagai masalah. Teori disiplin mental humanistik berasal dari
psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles, yang memandang bahwa
seorang anak telah memiliki potensi yang harus dilatih agar berkembang,
sehingga dalam pendidikan hendaknya menekankan pada pendidikan umum. Teori
disiplin mental naturalistik diperkenalkan oleh Jacques Rousseau yang
berasumsi bahwa seorang anak tidak hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk
berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan
kesanggupan untuk belajar dan berkembang sendiri.
Menurut teori behaviorisme, manusia tidak memiliki/membawa potensi apa-apa
dari sejak kelahirannya. Perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor
yang berasal dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat,
manusia, alam, budaya, serta agama yang membentuknya.
Menurut teori konvergensi yang dikembangkan oleh William Stern, bahwa
pembentukan kepribadian seseorang bukan hanya ditentukan oleh pembawaan,
kecakapan dan potensi yang dimiliki anak sejak lahir, melainkan juga ditentukan
atau dipengaruhi oleh lingkungan, yakni lingkungan keluarga, sekolah,
masyarakat, suasana keagamaan, tradisi, budaya, dan lain sebagainya. Teori
konvergensi mengakui adanya potensi dari dalam dan pengaruh dari luar secara
bersama-sama.
Berdasarkan beberapa konsep manusia menurut ilmu psikologi, kami
menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang sejak dari lahir membawa
fitrahnya sebagai individu yang memiliki potensi-potensi seperti potensi
beragama, belajar, dan beribadah kepada Allah SWT.
4. Manusia menurut Para Filsuf
Menurut para filsuf pada umumnya, manusia adalah makhluk yang dapat
berpikir, dan dengan berpikirnya ini, manusia menunjukkan eksistensi dan
perannya. Pikiran manusia tak ubahnya seperti bibit atau benih tanaman, jika
benih ini tumbuh di tempat yang subur, maka akan menghasilkan buah yang
bermanfaat bagi dirinya dan bagi lingkungan.[10]
Selanjutnya menurut para filsuf, bahwa manusia selain makhluk yang
berpengetahuan, juga sebagai makhluk yang berpendidikan. Dengan kemampuan pengetahuan
yang benar, manusia berusaha menjaga dan mengembangkan kelangsungan hidupnya.
5.
Manusia dalam perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an banyak
ditemukan gambaran yang membicarakan tentang manusia dan makna filosofis
tentang penciptaannya. Manusia dalam
pandangan Islam selalu dikaitkan dengan suatu kisah tersendiri. Didalamnya, manusia
tidak semata-mata digambarkan sebagai hewan tingkat tinggi yang berkuku pipih,
berjalan dengan dua kaki, dan pandai berbicara. Lebih dari itu, menurut Al-Qur’an,
manusia lebih luhur dan gaib dari apa yang didefinisikan oleh kata-kata
tersebut[11].
Manusia juga berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berkali-kali pula
direndahkan. Mereka ditakdirkan jauh mengungguli alam surga, bumi, bahkan para
malaikat.
Di
dalam al-Qur’an, telah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak membicarakan
tentang manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya.
Manusia diberi akal pikiran sehingga dengan akal tersebut mereka dapat
berpikir, dapat membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, serta
dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa ia pada kualitas
tetinggi sebagai makhluk yang bertakwa.
Untuk
membangun konsep tentang siapa manusia itu sendiri, Al-Qur’an menggunakan
banyak istilah-istilah seperti al-basyar, al-insan, al ins, dan an-naas.
a.
Manusia dalam konsep al-basyar
Al-Basyar
dalam bahasa Arab berasal dari kata basyartun, basyarun = adim =
insan. Dinamakan semikian karena kulit luarnya tampak, yaitu kepala, wajah,
dan juga jasadnya juga karena memiliki bentuk kerangka yang baik.
Kata
al-basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk, baik laki-laki maupun
perempuan, baik satu maupun banyak. Kata al-basyar adalah jamak dari
kata basyarah yang artinya kulit. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak
36 kali dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk mutsanna (dua)
untuk menunjukkan manusia drai sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan
manusia seluruhnya. Al-basyar dipakai untuk menunjukkan dimensi
alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, seperti makan, minum,
dan meninggal. Sehingga manusia disebut al-basyar karena manusia
cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan[12].
Pemakaian
kata basyar di beberapa tempat dalam Al-Qur’an memberikan pengertian
bahwa yang dimaksud manusia adalah yang biasa makan dan berjalan di
pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan.
Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari konsep al-basyar adalah :
a.
Disiplin
ilmu (mengetahui proses penciptaan manusia)
b.
Cerdas
(mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an tentang konsep al-basyar)
c.
Toleransi
(menghargai perbedaan sesama manusia)
d.
Hemat
(tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum)
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, kami menyimpulkan bahwa
manusia disebut al-basyar di dalam Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa proses
kejadian manusia dilakukan secara bertahap seperti di dalam surah Al-Alaq,
selain itu manusia dipandang sebagai makhluk biologis yang membutuhkan keperluan
seperti manusia pada umumnya, contohnya mereka membutuhkan makan, minum,
istirahat, rekreasi, hiburan, memiliki rasa lapar, haus, panas, dingin, dll.
b.
Manusia dalam konsep an-naas
Kata
an-naas di dalam Al-Qur’an pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia
sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat yang
berawal dari pasangan laki-laki dan perempuan kemudian berkembang menjadi suku
dan bangsa untuk saling mengenal dan menjalin silaturahmi seperti dalam QS.
Al-Hujurat ayat 13 :
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Berdasarkan
konsep tersebut, menurut kami manusia dikatakan an-naas karena manusia adalah
makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tergantung kepada keberadaan orang
lain. Mereka tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan interaksi kepada orang
lain untuk memenuhi kebutuhannya.
c.
Manusia dalam konsep al-insaan
Kata al-Insan yang berasal dari kata al-uns, secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah
lembut, tampak, atau pelupa. Dalam Al-Qur’an, kata insan sering juga
dihadapkan dengan kata jin atau jan, yaitu makhluk yang tidak tampak.
Kata insan menurut Quraish Shihab, digunakan untuk menunjuk manusia
sebagai totalitas (jiwa dan raga).[13] Kata
al-insan digunakan dalam al-Qur’an
untuk menunjukkan proses kejadian manusia sesudah Adam. Kejadiannya mengalami
proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalaam rahim. Penggunaan
kata al-insan dalam ayat ini
mengandung dua makna, yaitu : Pertama, makna
proses biologis, yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan
manusia, sampai pada proses pembuahan. Kedua,
makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan
ruh-Nya pada diri manusia. Kata al-insan mengandung
makna kesempurnaan, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan keunikkan manusia
sebagai makhluk Allah yang telah ditinggikan-Nya beberpa derajat dari
makhluk-makhluk lain.
d.
Manusia dalam konsep al-ins
Kata al-Ins
dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9
surat. Muhammad Al-Baqi memaparkan al-Ins adalah homonim dari al-Jins dan
al-Nufur. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan
jin, maka manusia adalah makhluk yang kasat mata. Sedangkan jin adalah makhluk
halus yang tidak tampak
Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas.
Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas.
Dari pendapat
di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan
sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin
adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang
tak terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan
realitas hidup dan lingkungan yang ada.
e.
Manusia dalam konsep bani adam
Istilah bani
Adam dan Zuriyah Adam maksudnya adalah manusia itu merupakan turunan Adam.[14] Asal
usul manusia dalam pandangan Islam tidak dapat lepas dari figur nabi Adam a.s
dan Siti Hawa sebagai manusia yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT yang
diberi kemampuan berpikir berupa akal yang sempurna yang dapat digunakan untuk
membedakan yang baik dan buruk. Manusia
sebagai bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-qur’an, contohnya
terdapat dalam Q.S Al-Israa’ ayat 70 :
Dalam
Al-Qur’an, manusia yang pertama kali diciptakan Allah adalah Adam, sedangkan keturunannya
disebut dengan bani Adam atau dzuriyat Adam. Makna bani Adam bermakna sesuatu
yang lahir dari sesuatu yang lain, sedangkan makna dzuriyat adam bermakna
kehalusan dan tersebar. Dalam ayat-ayat yang berbicara tentang manusia dalam
konsep Bani Adam, manusia senantiasa diingatkan agar tidak tergoda oleh syaitan
sebagaimana dalam Q.S Al-A’raf ayat 26-27
Artinya
: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami
telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah
untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu
adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan
dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya.
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan
itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raf :
26-27)
Manusia juga senantiasa tidak makan dan minum berlebih-lebihan,
serta cara berpakaian yang pantas saat beribadah seperti dalam Q.S
Al-A’raf : 31
Artinya :
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Serta bertaqwa dan mengadakan perbaikan seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-A’raf ayat 35.
Artinya : ”Hai
anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang
menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan
mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati”
Dari beberapa
uraian diatas, kami menyimpulkan bahwa manusia dikatakan dalam Al-Qur’an
menggunakan bani Adam karena pada dasarnya manusia iu terlahir dari satu
keturunan yang sama, yaitu nabi Adam a.s dan Siti Hawa yang telah dianugrahi
oleh Allah dengan akal yang sempurna. Maka dari itu seharusnya manusia dapat
menjalankan perannya sebagai bani Adam dalam kehidupan nyata dan tidak
melakukan hal-hal yang dapat merusak hubungan silaturahminya dengan manusia
lain mengingat mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah juga telah
berfirman dalam Q.S Hujuraat ayat 13 :
Artinya
: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat
diatas menerangkan bahwa semua manusia dimata Allah adalah sama, yang
membedakan manusia dengan manusia yang lain hanyalah derajat keimanannya saja.
Oleh karena itu, manusia sebagai bani Adam harus mempunyai nilai persaudaraan
yang kuat, dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Konsep ini dapat
diterapkan dalam proses pendidikan, yaitu dalam kurikulum pendidikan yang lebih
mengedepankan keadilan dan kesamaan derajat, tanpa adanya diskriminasi
pendidikan, tidak membeda-bedakan peserta didik yang satu dengan yang lain, dan
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapat pendidikan yang
merupakan haknya.
C. Implikasi Konsep Manusia dalam Pendidikan Islam
Menurut
Ali Ashraf, pendidikan islam tidak akan dapat dipahami secara jelas tanpa
terlebih dahulu memahami penafsiran Islam tentang pengembangan individu
seutuhnya. Ada 2 (dua) implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan
islam, yaitu :
1. Karena
manusia merupakan makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan
immateri), yang mana komponen materi berasal dari tanah, sebagaimana dalam Q.S.
As-Sajadah : 7.
Artinya
:” Yang membuat segala sesuatu yang
Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”
Kemudian komponen
immateri merupakan ruh yang ditiupkan oleh Allah (Q.S Al-Hijr : 29)
Artinya : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud”.
Maka konsepsi itu
menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan pengembangan
komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan islam harus
dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan Qalbiyah
‘Aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara
intelektual dan terpuji secara moral.
2. Al-Qur’an
menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah
dan ‘Abd. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah SWT. membekali manusia dengan
seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan islam harus merupakan
upaya yang ditujukan ke arah perkembangan potensi yang di miliki manusia secara
maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkrit, dalam arti
berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan
lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai
khalifah maupun ‘Abd.[15]
D. Prinsip-prinsip yang menjadi Dasar Pandangan Islam terhadap
Manusia.
1.
Kepercayaan
bahwa manusia ialah termulia didalam jagat raya
Keyakinan tentang manusia itu
makhluk yang termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada dalam alam
semesta ini. Allah kurniakan keutamaaan yang membedakannya dari makhluk lain.
Allah membekali manusia dengan beberapa ciri tertentu yang akan kita terangkan
kelak sebahagianya. Dengan kurnia itu manusia berhak mendapat penghormatan dari
makhluk-makhluk lain. Sebagaimana sesuailah sekiranya menjadi saksi kehidupan
yang serba bergerak aktif ini, atau figur yang diamanahkan untuk memikul misi
dari langit dan memperbaiki masyarakat sepanjang sejarah.
Jika
diteliti secara mendalam jelaslah bahwa titik berat perhitungan dan perhatian
misi dari langit, aliran falsafah yang beraneka ragam aliran-aliran reformasi
dan usaha-usaha ilmiah sepanjang sejarah adalah berhubung dengan matlamat
bagaimana caranya memberi petunjuk kepada manusia. Umumnya itu untuk
memperbaiki keadaannya. Bagaimana memupuk bakat dan kesediaan semula jadinya serta mengarahkan bakat tersebut kearah
kebaikan. Bagaaimana mengujudkan perubahan yang diingini terhadap tindak
tanduknya dalam hidup. Bagaimana mesti bertata cara dalam hidup yang beraneka
dimensi ini.
Jika
kita menoleh kepada agama Islam, maka jelaslah kepada kita bagaimana islam
memberi perhatian yang berat tentang insan. Islam menerangkan dengan terang
segala aspek yang berhubungan dengan insan didunia akhirat. Islam menerangkan
tentang rahasia sumber dan wujudnya. Tentang matlamat hidup, tujuan hidup tabiat
ciri & susunan-susunan kepribadiannya baik fisik, atau mental dan
mengarahkan segala persediaan semula jadi itu kearah yang berfaedah dan selaras
dengan jalinan hubungannya dengan seluruh isi alam. Baik jin, malaikat,
binatang, tumbuhan-tumbuhan atau benda.
2. Kepercayaan Akan Kemuliaan Manusia
Keutamaan
lebih diberikan kepada manusia dari makhluk lain. Manusia diangkat menjadi
khalifah dimuka bumi untuk memakmurkannya. Untuk itu dibebankan kepada manusia amanah attaklif. Diberikan pula
kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta memelihara nilai-nilai keutamaan.
Keutamaan yang diberikan bukanlah karena bangsanya, bukan juga karena warna,
kecantikan, perawakan, harta, derajat, jenis profesi, dan kasta sosial atau
ekonominya. Tetapi semata-mata karena Iman, takwa, akhlak, ketinggian akal dan
amalnya. Selain itu karena kesediaan insan menimba ilmu pengetahuan yang
berbagai jenis. Karena keahlian mencipta serta kemamnpuan melaksanakan
kerja-kerja akal dalam berbagai bidang. Karena daya mencipta nama dan istilah-istilah
baru pada zamannya. Karena kemampuan menguasai naluri dan nafsu. Manusia mampu
membantu dan berekreasi, karena manusia sanggup memikul tanggungjawab terhadap
diri dan masyarakat. Karena ia dapat menggunakan pengetahuan serta kepandaian,
manusia dapat meningkatkan akhlak serta kelompok sosialnya. Pendek kata,
manusia diberikan status demikian itu karena ciri dan sifat utama yang
dikaruniakan Allah kepadanya. Ciri-ciri itu tidak diberikan kepada
makluk-makhluk lain. Sebab itu layaklah manusia diberi karunia dan keutamaan
dari Allah.
3. Manusia Sebagai Makhluk Sosial yang Berbahasa
Manusia
sebagai makhluk sosial yang berbahasa, bolehmenggunakan bahasa sebagai media
berfikir dan berhubungan. Insan mampu menciptakan istilah dan menamakan sesuatu
untuk dikenal. Ia mampu berpikir wajar. Ia dapat menjadikan alamsekitarnya
sebagai objek renungan, pengamatan dan arena tempat menimbulkan perubahan yang
diingini. Manusia bisa mempelajari ilmu pengetahuan, kemahiran dan
kecenderungan baru. Suatu ciri yang berkaitan paling erat dengan kemampuan
berbahasa ialah kemampuan menjelaskan, atau menerangkan akan maksud yang
tersemat dalam hati atau fikiran. Suatu ciri lain yang terkait ialah daya
menamakan sesuatu dan menggunakannya. Daya mencipta arti yang ma’nawi dan memahami
pengertian tersebut sedangkan malaikat sendiri tidak memilikinya.
4. Kepercayaan Bahwa Manusia Mempunyai Tiga Dimensi
Manusia
mempunyai tiga dimensi persis seperti segitiga, yang sama panjang sisi-sisinya,
yaitu badan, akal dan ruh. Ini adalah dimensi pokok dalam kepribadian manusia.
Kemajuan, kebahagiaan dan kesempurnaan kepribadian manusia banyak bergantung
kepada keselarasan dan keharmonisan antara tiga dimensi pokok tersebut. Islam
tidak dapat membenarkan akal merajalela. Atau ilmu-ilmu melulu menguasai
kehidupan tanpa kendali, atau berkembangnya faham kebendaan yg sempit. Islam
berpendapat bahwa manusia hanya akan maju dengan adanya iringan akal dan ruh
atau ilmu dan iman.
5. Meyakini bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan
ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian warisan dan lingkungan.
Warisan
dan lingkungan mempengaruhi manusia dan berinteraksi dengannya sejak hari
pertama ia menjadi embryo hinggalah ke akhir hayat. Warisan yang dimaksud di
sini ialah keturunan, seperti kecerdasan dan yang dimaksud dengan lingkungan
ialah ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan manusia yang menjadi medan
aneka bentuk kegiatannya. Seperti air, udara, bumi, langit, matahari, dan
sebagainya.[16]
E.
Tanggung Jawab Manusia
Dalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki tanggung jawab yang
harus diembannya atas segala perbuatan yang telah dilakukannya. Manusia itu
mengerti tabiat yang terdapat dalam perbuatannya, yang sesuai atau yang tidak
sesuai dengan kodratnya. Manusia adalah makhluk
Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa yang
seindah-indahnya dilengkapi dengan akal, panca indra dan hati agar manusia
bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan
bahwa Allah SWT. menciptakan manusia bukan secara main-main melainkan dengan
suatu tujuan dan fungsi. Kesatuan wujud antara fisik dan psikis serta didukung
oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan
al-taqwim dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis yaitu :
1. Manusia sebagai hamba Allah (‘abd Allah)
Kedudukan sebagai hamba Allah ini memang menjadi tujuan
Allah menciptakan manusia dan makhluk-makhluk lainnya.
Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku”
Konsep ’abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai
hamba Allah. Dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT yang meliputi
seluruh aktivitsnya dengan penuh keihkhlasan. Islam menggariskan bahwa seluruh
akivitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta ini dapat dinilai
sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang ditujukan kepada Allah SWT dalam
rangka mendapatkan ridho-Nya.
Musa Asy’arie mengatakan bahwa makna dari kata ‘abd
adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang hanya layak diberikan kepada
Tuhan. Ketundukan dan ketaatan pada kodrat alamiah yang senantiasa belaku
bagi-Nya. Ia terikat oleh hukum-hukum Tuhan yang menjadi kodrat pada setiap
ciptaannya, manusia menjadi bagian dari setiap ciptaa-Nya, ia tergantung pada
sesamanya, hidup dan matinya menjadi bagian dari segala yang hidup dan mati.
Sebagai hamba Allah manusia tidak bias terlepas dari kekuasaan-Nya, karena
manusia mempunyai fitrah (potensi) bergama. Yang mengakui adanya kekuatan
diluar dirinya.
2. Manusia sebagai khalifah fil-ardh
Kata khalifah berasal dari fiil madhi Khalafa yang berarti mengganti
dan melanjutkan. Jadi khalifah yaitu proses penggantian antara satu
individu dengan individu yang lain. Sebagai seorang khalifah ia
berfungsi menggantikan orang lain dan menempati tempat serta kedudukan-Nya. Ia
menggantikan orang lain menggantikan kedudukann kepemimpinannya atau
kekuasaanya.
Manusia di dunia ini adalah sebagai wakil Allah SWT.
Artinya : “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada
Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata
mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam
nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah : 30)
Sebagai pengganti dan penerus generasi yang sebelumnya, dan sebagai
pewaris-pewaris dimuka bumi sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. An-Naml :
62.
Artinya : “Atau siapakah yang
memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya,
dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah
kamu mengingati(Nya). (Q.S. An-Naml : 62)
Di samping itu, manusia
adalah pemikul amanah yang semula ditawarkan pada langit, bumi, dan gunung,
namun mereka semua enggan menerimanya. Namun dengan keterbatasannya manusia mau
menerima amanah itu seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab : 72, serta
menjadi pemimpin atas diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. [17]
Artinya :“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu
oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S. Al-Ahzab
: 72)
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban
amanat. Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di
bumi. Karena amat mulianya manusia mengeban amanat Allah, maka manusia diberi
kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Manusia disamping memiliki status
sebagai makhluk dan bagian dari alam, ia juga mempunyai tugas sebagai
khalifah/penguasa di muka bumi. Denga n pengertian bahwa manusia itu dibebani
tanggung jawab dan anugerah kekuasaan untuk mengatur dan membangun dunia ini
dalam berbagai segi kehidupan, dan sekaligus menjadi saksi dan bukti atas
kekuasaan Allah SWT di alam jagat raya ini.
Menurut Ahmad Musthafa Al Marghi, kata khalifah dalam ayat ini
memiliki dua makna. Pertama, pengganti yaitu pengganti Allah SWT dalam
menjalankan titahnya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang
kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan mendayagunakan alam semesta
bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.
Tugas kekhalifahan yang dibebankan kepada manusia itu banyak sekali, tetapi
dapat disimpulkan dalam tiga bagian sebagaimana yang ditulis oleh Abu Bakar
Muhammad, yaitu :
1. Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi menuntut ilmu yang
berguna dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia
2. Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga dengan jalan membentuk rumah
tangga bahagia, menyadari dan melaksanakan tugas dan kewajiban rumah tangga
sebagai suami isteri dan orang tua
3. Tugas kekhalifahan dalam masyarakat, dengan mewujudkan persatuan dan
kesatuan, menegakkan kebenaran dan keadilan sosial, bertanggung jawab dalam
amar ma’ruf dan nahi munkar dan menyantuni golongan masyarakat yang lemah.[18]
Implikasi dalam pendidikan Islam berkaitan dengan fungsi manusia
sebagai khalifah, yaitu memberikan sumbangan antar manusia dan antar umat untuk
hidup saling mengisi, dan melengkapi kekurangan masing-masing, menjadikan alam
sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, objek pendidikan, alat pendidikan
serta media pendidikan, melatih manusia menjadi pemimpin dengan mengelola alam
semesta beserta isinya sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT, dan melatih
sikap dan jiwanya sebagai manusia[19].
Berdasarkan paparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa manusia
diberi tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi adalah untuk mengemban
tanggung jawab yang telah diberikan oleh Allah SWT serta mengembangkan
potensi-potensi yang ada dalam dirinya, sekaligus mengelola dan memanfaatkan
alam semesta beserta seluruh isinya sebagai sarana yang digunakan untuk
beribadah kepada Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Manusia
menurut manusia adalah makhluk rasional, manusia itu
bebas bertindak berdasarkan alasan moral, manusia bertindak bukan hanya untuk
kepentingan diri sendiri. Manusia menurut manusia juga bagaikan kertas putih
yang kosong, yang dalam perjalanan hidupnya terisi dengan pengalaman-pengalaman
hidup yang telah dilaluinya. Sedangkan manusia menurut Tuhan adalah manusia
yang berasal dan akan kembali kepada Tuhan yang memiliki unsur hakikinya
sebagai manusia yaitu berupa jasmani, akal, dan ruh.
2.
Manusia
menurut beberapa ahli terbagi menjadi lima, yaitu manusia menurut ilmu
Antropologi, manusia menurut ilmu Sosiologi, manusia menurut ilmu Psikologi,
manusia menurut para Filsuf, dan manusia menurut dalam perspektif Islam.
Manusia menurut ilmu Antropologi adalah individu yang bersal dari sesuatu yang
sangat sederhana kemudian berevolusi menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia
menurut ilmu Sosiologi adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian
dan memerlukan orang lain untuk bersosialisasi. Manusia menurut ilmu Psikologi terbagi
menjadi tiga teori yang ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Manusia
menurut para Filsuf adalah makhluk yang
dapat berpikir, dan dengan berpikirnya ini, manusia menunjukkan eksistensi dan
perannya. Sedangkan manusia menurut Al-Qur’an disebutkan dalam beberapa kata
seperti al-basyar, al-insaan, al-ins, al-naas, dan bani Adam/dzuriyat
Adam.
3. Implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam adalah
manusia merupakan makhluk yang menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke
arah pengembangan potensi yang dimilikinya serta mewujudkan fungsi penciptaan
manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘Abd.
4. Yang
menjadi prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia
adalah kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk termulia di dalam jagat
raya, kepercayaan akan kemuliaan, kepercayaan bahwa manusia mempunyai tiga
dimensi, dan meyakini bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan ciri
pertumbuhannya adalah hasil pencapaian warisan dan lingkungan.
5. Tanggung jawab manusia di dunia ini ada dua yaitu yang pertama
sebagai khalifah di muka bumi yang mengelola alam semesta sebagai sarana untuk
beribadah kepada Allah, dan yang kedua adalah sebagai hamba Allah yang
senantiasa beribadah kepada Allah sebagai wujud dari rasa syukur.
B.
Saran
Penting
untuk kita mengerti dan mengetahui tentang manusia dalam pandangan filsafat
pendidikan Islam karena manusia merupakan objek dalam filsafat, terlebih lagi
dalam dunia pendidikan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul
Karim
Abd. Aziz. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : TERAS,
2009
Abu Bakar Muhammad, Membangun Manusia indonesia Seutuhnya
Menurut Al- Qur’an, Surabaya :
Al-Ikhlas, 2003.
Al-Syaibany , Omar
Mohammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan
Islam, Jakarta : Bulan Bintang,
1979.
Idi, Abdullah
dan Jalaludin, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan), Jakarta : Rajawali
Pers, 2013.
Mutahhari, Murtadha, Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan
Nata, Abuddin, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, Jakarta
: Rajawali Pers, 2012.
Nizar, Samsul dan Al-Rasyidin, Filsafat
Pendidikan Islam, Ciputat : Ciputat Press,
2005.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT
Remaja Rosdakarya, 2008.
[1] Ahmad Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islam : Integrasi Jasmani, Rohani, Kalbu Memanusiakan Manusia,
Bandung : Remaja Rosdakarya, h. 8.
[3] Ibid, h.14
[4] Abuddin Nata, Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat, Jakarta : Rajawali Pers. h.66
[5] Jalaludin dan
Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan), Jakarta
: Gaya Media Pratama, h.107
[7] Abuddin Nata, Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat, Jakarta : Rajawali Pers.. h.67
[8] Ibid, h. 68
[10] Ibid, h.73
[12] http://filsafat.kompasiana.com/2014/06/23/konsep-manusia-dalam-al-quran-668664.html (Diakses
Selasa, 31 Maret 2015, 16.00)
[13] Ahmad Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islami : Integrasi Jasmani, Rohani, Kalbu Memanusiakan Manusia,
Bandung : Rosdakarya, h.20
[14] Ibid, h.21
[18] Abu Bakar
Muhammad, Membangun Manusia indonesia Seutuhnya Menurut Al-Qur’an, Surabaya
: Al-Ikhlas, h. 203
Tidak ada komentar:
Posting Komentar