Kamis, 22 Desember 2016

Jawaban UAS TI

1.      Isi rata-rata dan predikat dengan kategori :
Jika rata-rata nilai siswa lebih dari 80, maka predikat baik
Jika rata-rata nilai siswa lebih dari 60, maka predikat cukup
Jika rata-rata nilai siswa kurang dari 60, maka predikat kurang




Langkah pertama yang dilakukan ialah mencari nilai rata-rata.
-          Pada kolom rata-rata isikan rumus =AVERAGE( , kemudian blok cell yang ingin dicari nilai rata-ratanya seperti gambar berikut.


Setelah rumus dimasukan kemudian tekan enter, maka nilai rata-rata di cell F5 (atas nama Didik Wahyudi) akan muncul. Untuk menampilkan nilai rata-rata seluruh siswa silahkan tarik sudut pada pojok kanan bawah dari cell F5 kemudian tarik sudut tersebut ke bawah seperti gambar berikut.


Langkah kedua ialah menentukan predikat dari nilai rata-rata yang sudah ada, dengan cara:

  • -          Sebelumnya kita harus melihat terlebih dahulu kategori atau syarat yang ada pada soal untuk menentukan predikat. Kemudian pada kolom predikat isikan rumus =IF(F9>=80;"BAIK";IF(F9>=60;"CUKUP";"KURANG")) ,
f9 yang ada pada rumus merupakan cell nilai rata-rata dari Didik Wahyudi,


Ø  >=80;"BAIK",  >=60;"CUKUP"  ialah kategori yang ada pada soal namun yang ditulis hanya 2 kategori selebihnya predikat dinyatakan kurang
-          Setelah rumus dimasukkan silahkan tekan enter, maka predikat akan muncul. Selanjutnya silahkan tarik sudut pojok kanan bawah pada cell agar predikat semua siswa terisi seperti yang dilakukan sebelumnya pada langkah penentuan rata-rata.


2. Isi jam masuk dan pulang dengan kategori:
a.       Menentukan jam masuk
Jika jadwal masuk sip 1, maka jam masuk 06.00
Jika jadwal masuk sip 2, maka jam masuk 10.00
Jika jadwal masuk sip 3, maka jam masuk 14.00
Jika jadwal masuk sip 4, maka jam masuk 18.00
b.      Menentukan jam pulang
Jika jadwal masuk sip 1, maka jam pulang 10.00
Jika jadwal masuk sip 2, maka jam pulang 14.00
Jika jadwal masuk sip 3, maka jam pulang 18.00
Jika jadwal masuk sip 4, maka jam pulang 22.00



Langkah pertama yang dilakukan ialah mencari jadwal jam masuk menggunakan rumus if dengan cara:
-          Isikan rumus =IF(C23:C31="Sip 1";"06.00";IF(C23:C31="Sip 2";"10.00";IF(C23:C31="Sip 3";"14.00";"18.00"))) pada kolom jam masuk a.n Anton.
Ø  C23:C31 ialah cell pada kolom jadwal masuk (blok dari jadwal masuk dari nomor 1-9



-          Kemudian masukan kategori yang ada pada soal, namun yang dimasukkan hanya 3 kategori yakni sip 1 sampai sip 3, selebihnya isikan jam pada sip 4 (=IF(C23:C31="Sip 1";"06.00";IF(C23:C31="Sip 2";"10.00";IF(C23:C31="Sip 3";"14.00";"18.00")

  • -         Kemudian masukan kategori yang ada pada soal, namun yang dimasukkan hanya 3 kategori yakni sip 1 sampai sip 3, selebihnya isikan jam pada sip 4 (=IF(C23:C31="Sip 1";"06.00";IF(C23:C31="Sip 2";"10.00";IF(C23:C31="Sip 3";"14.00";"18.00") 
  • -          kemudian tekan enter, maka jam masuk akan muncul sesuai sip yang telah ditentukan
  • -          Selanjutnya silahkan tarik sudut pojok kanan bawah cell agar semua cell pada kolom jam masuk terisi seperti pada langkah sebelumnya.

Langkah selanjutnya yang dilakukan ialah mencari jam pulang menggunakan rumus if, cara menentukan jam pulang sama dengan cara menentukan jam masuk, yang diubah hanyalah jam pulang yang sesuai dengan kategori atau syarat yang ada pada soal. 

-          Rumus yang digunakan ialah =IF(C23:C31="Sip 1";"10.00";IF(C23:C31="Sip 2";"14.00";IF(C23:C31="Sip 3";"18.00";"22.00"))) pada kolom jam masuk a.n Anton.

-          Cara selanjutnya sama dengan di atas.




























Sabtu, 03 Desember 2016

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANG MANUSIA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara masalah filsafat, tidak akan lepas dari berbicara tentang Manusia, karena manusia merupakan salah satu dari objek filsafat, baik filsafat umum, filsafat pendidikan maupun filsafat Pendidikan Islam. Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak lain hanya untuk mengabdi dan beribadah. Dan juga bertugas untuk mengemban amanah untuk mengelola dan memamfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur lahir dan batin. Begitu spesialnya manusia diciptakan oleh allah SWT. Dengan diberinya potensi, maka manusia dapat berpikir dan memngembangkan potensi yang terdapat pada dirinya. Mengembangkan potensi tersebut salah satunya melalui dunia pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut, maka makalah ini akan membahas tentang hakikat manusia, manusia menurut beberapa ahli, implikasi konsep manusia dalam pendidikan islam, prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia, serta tanggung jawab manusia
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hakikat manusia itu sendiri ?
2.      Bagaimana konsep manusia menurut beberapa ahli ?
3.      Bagaimana implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam ?
4.      Apa saja prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia ?
5.      Apa saja tanggung jawab manusia ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui bagaimana hakikat manusia itu sendiri.
2.      Untuk mengetahui bagaimana konsep manusia menurut beberapa ahli.
3.      Untuk mengetahui implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam.
4.      Untuk mengetahui prinsip dasar yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia.
5.      Untuk mengetahui tanggung jawab manusia.

D.    Metode Penulisan
Adapun metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah sederhana ini yaitu:
1.      Metode kepustakaan (Library Research).




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Manusia
            Hakikat manusia perlu dibahas terlebih dahulu karena pendidikan yang kita dambakan itu adalah untuk manusia. Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dalam hal ini ada beberapa hal yang akan dibahas, yaitu Manusia Menurut Manusia, dan Manusia Menurut Tuhan.
1.      Manusia Menurut Manusia
Socrates (470-399 SM), orang Athena mengungkapkan pemikirannya tentang manusia di hadapan murid-muridnya. Diantara pemikiran tersebut antara lain bahwa pada diri manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia.[1] Socrates mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Kalimat ini sangat dasar. Manusia mengatur dirinya, ia membuat peraturan untuk itu; manusia mengatur dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri.[2]
Plato merupakan salah satu murid Socrates. Menurut Plato, jiwa manusia itu ada sejak sebelum lahir, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Menurut pendapat John Locke (1623-1704), manusia saat dilahirkan laksana kertas bersih, kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam hidupnya. Sedangkan menurut Immanuel Kant (1724-1804), manusia adalah makhluk rasional, manusia itu bebas bertindak berdasarkan alasan moral, manusia bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

2.      Manusia Menurut Tuhan
Menurut Al-Qur’an, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, manusia itu berasal dan datang dari Tuhan. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu mempunyai unsur jasmani (material). Sebagaimana diisyartkan dalam QS. Al-A’raaf ayat 31[3] :
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Di dalam surah tersebut, Tuhan mengatakan bahwa makan dan minum bagi manusia adalah suatu keharusan. Ini merupakan bukti bahwa manusia itu memiliki unsur jasmani.
Selanjutnya, unsur hakiki pada manusia adalah akal. Akal banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an dengan menggunakan kata-kata untuk mewakili konsep akal seperti nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan aqala. Selain itu, aspek lain yang menjadi unsur hakiki manusia adalah ruh atau ruhani. Penjelasan Al-Qur’an tentang aspek ini terdapat dalam Al-Qur’an seperti dalam QS. Al-Hijr ayat 29 :


            Artinya : Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersuju”


B.     Manusia  Menurut Pandangan para Ahli
1.      Manusia menurut Ilmu Antropologi
Kalangan antropologi melihat manusia berdasarkan teori evolusi. Menurutnya, bahwa semua makhluk termasuk manusia pada mulanya muncul dari suatu sel yang sangat sederhana, kemudian berproses dan berevolusi secara bertahap menuju taraf yang lebih sempurna, dan dalam proses evolusi tersebut terdapat hukum berjuang dan bertahan untuk hidup (The Preservation of Favoured Rase in the Strugle of Life, atau The Origin of Species by Means of Natural Selection), yakni makhluk yang lemah dengan sendirinya akan hilang atau lenyap digantikan oleh makhluk yang lebih kuat[4]. Dalam teori tersebut, asal usul manusia berasal dari benda-benda tidak bernyawa yang memiliki sel sangat sederhana, kemudian berubah menjadi tumbuh-tumbuhan, kemudian berubah menjadi binatang, kemudian berubah menjadi makhluk yang mendekati manusia, dan terakhir berubah menjadi manusia seperti sekarang. Teori ini diperkenalkan oleh Charles Darwin (1809-1882) yang dipengaruhi oleh Lamarck (1744-1829).
Dalam perspektif sosiologis, terdapat empat aliran yang membahas manusia dari segi sosiologis[5], yaitu :
a.       Aliran serba zat
Aliran serba zat ini mengatakan yang benar-benar ada itu hanyalah zat atau materi. Alam ini adalah zat atau materi, dan manusia itu adalah unsur dari alam. Maka dari itu manusia adalah zat atau materi.
b.      Aliran serba ruh
Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia adalah ruh, juga hakikat manusia adalah ruh, adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh diatas dunia ini. Fiche mengemukakan bahwa segala sesuatu yang lain (selain ruh) yang rupanya ada dan hidup hanyalah suatu jenis perumpamaan, perubahan atau penjelmaan dari ruh[6]. Dasar pikiran aliran ini ialah bahwa ruh ituu lebih berharga, lebih tinggi nilainya daripada materi. Hal ini mereka buktikan dalam kehidupan sehari-hari, betapapun kita mencintai seseorang, jika ruhnya terpisah dengan badannya, maka materi/jasadnya tidak ada artinya.
c.       Aliran dualisme
Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan ruhani. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh, dan ruh tidak berasal dari badan. Perwujudannya manusia tidak serba dua, jasad dan ruh. Antara badan dan ruh terjadi sebab akibat yang mana keduanya saling mempengaruhi.
d.      Aliran eksistensialisme
Aliran ini merupakan aliran filsafat modern yang berpikir bahwa hakikat manusia merupakan eksistensi dari manusia. Hakikat manusia adalah apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Disini, manusia dipandang tidak dari sudut serba zat, serba roh, atau dualisme, tetapi dari segi eksistensi manusia di bumi ini.
Jika kita mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pedoman dasar dalam kehidupan muslim, teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin tersebut sangat bertentangan dengan proses terciptanya manusia seperti yang diceritakan di dalam Al-Qur’an. menciptakan manusia dari saripati yang berasal dari tanah sampai akhirnya menjadi makhluk yang berbentuk sempurna.
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
2.      Manusia menurut Ilmu Sosiologi
Kalangan sosiologi menganggap manusia adalah makhluk hidup, dan kehidupannya tidaklah dapat dipisahkan dari hidup berkelompok.  Pandangan kaum sosiolog tentang manusia ini sejalan dengan pendapat Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan dalam teorinya, bahwa manusia adalah “Zoon Politikon”, yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan, atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama daripada hidup sendiri.[7]
Berdasarkan pandangan tersebut, kami berpendapat bahwa manusia jika dipandang dari segi sosiologis merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, kehidupan manusia itu sendiri bergantung kepada orang lain, mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya serta ikut melengkapi kekurangan-kekurangannya. Hal ini serupa dengan kisah Nabi Adam a.s ketika masih di surga beliau meminta teman untuk menemani hidupnya sehingga Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya untuk menjadi pasangan hidupnya sehingga menghasilkan keturunan-keturunan Adam.
3.      Manusia menurut Ilmu Psikologi
Menurut Morris L. Bigge dan Maurice P. hunt, bahwa manusia menurut ilmu psikologi dapat dibagi menjadi tiga teori, yaitu teori disiplin mental, teori behaviorisme, dan teori konvergensi.[8]
Menurut teori disiplin mental, bahwa sejak lahir seorang anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Teori disiplin mental ini terbagi menjadi tiga rumpun, yaitu disiplin mental theistik, disiplin mental humanistik, dan disiplin mental naturalistik[9]. Teori disiplin mental theistik berasal dari Psikoogi Daya. Menuru teori ini seorang anak mempunyai daya mental seperti daya untuk mengamati, menanggap, mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. Belajar merupakan sebuah proses melatih daya tersebut sehingga dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah. Teori disiplin mental humanistik berasal dari psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles, yang memandang bahwa seorang anak telah memiliki potensi yang harus dilatih agar berkembang, sehingga dalam pendidikan hendaknya menekankan pada pendidikan umum. Teori disiplin mental naturalistik diperkenalkan oleh Jacques Rousseau yang berasumsi bahwa seorang anak tidak hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kesanggupan untuk belajar dan berkembang sendiri.
Menurut teori behaviorisme, manusia tidak memiliki/membawa potensi apa-apa dari sejak kelahirannya. Perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, manusia, alam, budaya, serta agama yang membentuknya.
Menurut teori konvergensi yang dikembangkan oleh William Stern, bahwa pembentukan kepribadian seseorang bukan hanya ditentukan oleh pembawaan, kecakapan dan potensi yang dimiliki anak sejak lahir, melainkan juga ditentukan atau dipengaruhi oleh lingkungan, yakni lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, suasana keagamaan, tradisi, budaya, dan lain sebagainya. Teori konvergensi mengakui adanya potensi dari dalam dan pengaruh dari luar secara bersama-sama.
Berdasarkan beberapa konsep manusia menurut ilmu psikologi, kami menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang sejak dari lahir membawa fitrahnya sebagai individu yang memiliki potensi-potensi seperti potensi beragama, belajar, dan beribadah kepada Allah SWT.

4.      Manusia menurut Para Filsuf
Menurut para filsuf pada umumnya, manusia adalah makhluk yang dapat berpikir, dan dengan berpikirnya ini, manusia menunjukkan eksistensi dan perannya. Pikiran manusia tak ubahnya seperti bibit atau benih tanaman, jika benih ini tumbuh di tempat yang subur, maka akan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi lingkungan.[10] Selanjutnya menurut para filsuf, bahwa manusia selain makhluk yang berpengetahuan, juga sebagai makhluk yang berpendidikan. Dengan kemampuan pengetahuan yang benar, manusia berusaha menjaga dan mengembangkan kelangsungan hidupnya.
5.      Manusia dalam perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan gambaran yang membicarakan tentang manusia dan makna filosofis tentang penciptaannya. Manusia dalam pandangan Islam selalu dikaitkan dengan suatu kisah tersendiri. Didalamnya, manusia tidak semata-mata digambarkan sebagai hewan tingkat tinggi yang berkuku pipih, berjalan dengan dua kaki, dan pandai berbicara. Lebih dari itu, menurut Al-Qur’an, manusia lebih luhur dan gaib dari apa yang didefinisikan oleh kata-kata tersebut[11]. Manusia juga berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berkali-kali pula direndahkan. Mereka ditakdirkan jauh mengungguli alam surga, bumi, bahkan para malaikat.
Di dalam al-Qur’an, telah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak membicarakan tentang manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya. Manusia diberi akal pikiran sehingga dengan akal tersebut mereka dapat berpikir, dapat membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, serta dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa ia pada kualitas tetinggi sebagai makhluk yang bertakwa.
Untuk membangun konsep tentang siapa manusia itu sendiri, Al-Qur’an menggunakan banyak istilah-istilah seperti al-basyar, al-insan, al ins, dan an-naas.
a.      Manusia dalam konsep al-basyar
Al-Basyar dalam bahasa Arab berasal dari kata basyartun, basyarun = adim = insan. Dinamakan semikian karena kulit luarnya tampak, yaitu kepala, wajah, dan juga jasadnya juga karena memiliki bentuk kerangka yang baik.
Kata al-basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu maupun banyak. Kata al-basyar adalah jamak dari kata basyarah yang artinya kulit. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk mutsanna (dua) untuk menunjukkan manusia drai sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Al-basyar dipakai untuk menunjukkan dimensi alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, seperti makan, minum, dan meninggal. Sehingga manusia disebut al-basyar karena manusia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan[12].
Pemakaian kata basyar di beberapa tempat dalam Al-Qur’an memberikan pengertian bahwa yang dimaksud manusia adalah yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari konsep al-basyar adalah :
a.    Disiplin ilmu (mengetahui proses penciptaan manusia)
b.   Cerdas (mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an tentang konsep al-basyar)
c.    Toleransi (menghargai perbedaan sesama manusia)
d.   Hemat (tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum)
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, kami menyimpulkan bahwa manusia disebut al-basyar di dalam Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia dilakukan secara bertahap seperti di dalam surah Al-Alaq, selain itu manusia dipandang sebagai makhluk biologis yang membutuhkan keperluan seperti manusia pada umumnya, contohnya mereka membutuhkan makan, minum, istirahat, rekreasi, hiburan, memiliki rasa lapar, haus, panas, dingin, dll.
b.      Manusia dalam konsep an-naas
Kata an-naas di dalam Al-Qur’an pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat yang berawal dari pasangan laki-laki dan perempuan kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling mengenal dan menjalin silaturahmi seperti dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berdasarkan konsep tersebut, menurut kami manusia dikatakan an-naas karena manusia adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tergantung kepada keberadaan orang lain. Mereka tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan interaksi kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

c.       Manusia dalam konsep al-insaan
Kata al-Insan yang berasal dari kata al-uns, secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Dalam Al-Qur’an, kata insan sering juga dihadapkan dengan kata jin atau jan, yaitu makhluk yang tidak tampak. Kata insan menurut Quraish Shihab, digunakan untuk menunjuk manusia sebagai totalitas (jiwa dan raga).[13] Kata al-insan digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan proses kejadian manusia sesudah Adam. Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalaam rahim. Penggunaan kata al-insan dalam ayat ini mengandung dua makna, yaitu : Pertama, makna proses biologis, yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan manusia, sampai pada proses pembuahan. Kedua, makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan ruh-Nya pada diri manusia. Kata al-insan mengandung makna kesempurnaan, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan keunikkan manusia sebagai makhluk Allah yang telah ditinggikan-Nya beberpa derajat dari makhluk-makhluk lain.
d.      Manusia dalam konsep al-ins
Kata al-Ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat. Muhammad Al-Baqi memaparkan al-Ins adalah homonim dari al-Jins dan al-Nufur. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka manusia adalah makhluk yang kasat mata. Sedangkan jin adalah makhluk halus yang tidak tampak
Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada.
e.       Manusia dalam konsep bani adam
Istilah bani Adam dan Zuriyah Adam maksudnya adalah manusia itu merupakan turunan Adam.[14] Asal usul manusia dalam pandangan Islam tidak dapat lepas dari figur nabi Adam a.s dan Siti Hawa sebagai manusia yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT yang diberi kemampuan berpikir berupa akal yang sempurna yang dapat digunakan untuk membedakan yang baik dan buruk.  Manusia sebagai bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-qur’an, contohnya terdapat dalam Q.S Al-Israa’ ayat 70 :
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Dalam Al-Qur’an, manusia yang pertama kali diciptakan Allah adalah Adam, sedangkan keturunannya disebut dengan bani Adam atau dzuriyat Adam. Makna bani Adam bermakna sesuatu yang lahir dari sesuatu yang lain, sedangkan makna dzuriyat adam bermakna kehalusan dan tersebar. Dalam ayat-ayat yang berbicara tentang manusia dalam konsep Bani Adam, manusia senantiasa diingatkan agar tidak tergoda oleh syaitan sebagaimana dalam Q.S Al-A’raf ayat 26-27








            Artinya : “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raf : 26-27)
Manusia juga senantiasa tidak makan dan minum berlebih-lebihan, serta cara berpakaian yang pantas saat beribadah seperti dalam Q.S Al-A’raf  : 31




Artinya :
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Serta bertaqwa dan mengadakan perbaikan seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-A’raf ayat 35.





Artinya : ”Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Dari beberapa uraian diatas, kami menyimpulkan bahwa manusia dikatakan dalam Al-Qur’an menggunakan bani Adam karena pada dasarnya manusia iu terlahir dari satu keturunan yang sama, yaitu nabi Adam a.s dan Siti Hawa yang telah dianugrahi oleh Allah dengan akal yang sempurna. Maka dari itu seharusnya manusia dapat menjalankan perannya sebagai bani Adam dalam kehidupan nyata dan tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak hubungan silaturahminya dengan manusia lain mengingat mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah juga telah berfirman dalam Q.S Hujuraat ayat 13 :



           
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat diatas menerangkan bahwa semua manusia dimata Allah adalah sama, yang membedakan manusia dengan manusia yang lain hanyalah derajat keimanannya saja. Oleh karena itu, manusia sebagai bani Adam harus mempunyai nilai persaudaraan yang kuat, dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Konsep ini dapat diterapkan dalam proses pendidikan, yaitu dalam kurikulum pendidikan yang lebih mengedepankan keadilan dan kesamaan derajat, tanpa adanya diskriminasi pendidikan, tidak membeda-bedakan peserta didik yang satu dengan yang lain, dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapat pendidikan yang merupakan haknya.
C.    Implikasi Konsep Manusia dalam Pendidikan Islam
Menurut Ali Ashraf, pendidikan islam tidak akan dapat dipahami secara jelas tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran Islam tentang pengembangan individu seutuhnya. Ada 2 (dua) implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu :
1.      Karena manusia merupakan makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), yang mana komponen materi berasal dari tanah, sebagaimana dalam Q.S. As-Sajadah : 7.

Artinya :” Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”

Kemudian komponen immateri merupakan ruh yang ditiupkan oleh Allah (Q.S Al-Hijr : 29)
Artinya : “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
Maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan Qalbiyah ‘Aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral.
2.      Al-Qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘Abd. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah SWT. membekali manusia dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah perkembangan potensi yang di miliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘Abd.[15]
D.    Prinsip-prinsip yang menjadi Dasar Pandangan Islam terhadap Manusia.
1.         Kepercayaan bahwa manusia ialah termulia didalam jagat raya
Keyakinan tentang manusia itu makhluk yang termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada dalam alam semesta ini. Allah kurniakan keutamaaan yang membedakannya dari makhluk lain. Allah membekali manusia dengan beberapa ciri tertentu yang akan kita terangkan kelak sebahagianya. Dengan kurnia itu manusia berhak mendapat penghormatan dari makhluk-makhluk lain. Sebagaimana sesuailah sekiranya menjadi saksi kehidupan yang serba bergerak aktif ini, atau figur yang diamanahkan untuk memikul misi dari langit dan memperbaiki masyarakat sepanjang sejarah.
Jika diteliti secara mendalam jelaslah bahwa titik berat perhitungan dan perhatian misi dari langit, aliran falsafah yang beraneka ragam aliran-aliran reformasi dan usaha-usaha ilmiah sepanjang sejarah adalah berhubung dengan matlamat bagaimana caranya memberi petunjuk kepada manusia. Umumnya itu untuk memperbaiki keadaannya. Bagaimana memupuk bakat dan kesediaan semula jadinya  serta mengarahkan bakat tersebut kearah kebaikan. Bagaaimana mengujudkan perubahan yang diingini terhadap tindak tanduknya dalam hidup. Bagaimana mesti bertata cara dalam hidup yang beraneka dimensi ini.
Jika kita menoleh kepada agama Islam, maka jelaslah kepada kita bagaimana islam memberi perhatian yang berat tentang insan. Islam menerangkan dengan terang segala aspek yang berhubungan dengan insan didunia akhirat. Islam menerangkan tentang rahasia sumber dan wujudnya. Tentang matlamat hidup, tujuan hidup tabiat ciri & susunan-susunan kepribadiannya baik fisik, atau mental dan mengarahkan segala persediaan semula jadi itu kearah yang berfaedah dan selaras dengan jalinan hubungannya dengan seluruh isi alam. Baik jin, malaikat, binatang, tumbuhan-tumbuhan atau benda.
2.      Kepercayaan Akan Kemuliaan Manusia
Keutamaan lebih diberikan kepada manusia dari makhluk lain. Manusia diangkat menjadi khalifah dimuka bumi untuk memakmurkannya. Untuk itu dibebankan kepada manusia amanah attaklif. Diberikan pula kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta memelihara nilai-nilai keutamaan. Keutamaan yang diberikan bukanlah karena bangsanya, bukan juga karena warna, kecantikan, perawakan, harta, derajat, jenis profesi, dan kasta sosial atau ekonominya. Tetapi semata-mata karena Iman, takwa, akhlak, ketinggian akal dan amalnya. Selain itu karena kesediaan insan menimba ilmu pengetahuan yang berbagai jenis. Karena keahlian mencipta serta kemamnpuan melaksanakan kerja-kerja akal dalam berbagai bidang. Karena daya mencipta nama dan istilah-istilah baru pada zamannya. Karena kemampuan menguasai naluri dan nafsu. Manusia mampu membantu dan berekreasi, karena manusia sanggup memikul tanggungjawab terhadap diri dan masyarakat. Karena ia dapat menggunakan pengetahuan serta kepandaian, manusia dapat meningkatkan akhlak serta kelompok sosialnya. Pendek kata, manusia diberikan status demikian itu karena ciri dan sifat utama yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ciri-ciri itu tidak diberikan kepada makluk-makhluk lain. Sebab itu layaklah manusia diberi karunia dan keutamaan dari Allah.
3.      Manusia Sebagai Makhluk Sosial yang Berbahasa
Manusia sebagai makhluk sosial yang berbahasa, bolehmenggunakan bahasa sebagai media berfikir dan berhubungan. Insan mampu menciptakan istilah dan menamakan sesuatu untuk dikenal. Ia mampu berpikir wajar. Ia dapat menjadikan alamsekitarnya sebagai objek renungan, pengamatan dan arena tempat menimbulkan perubahan yang diingini. Manusia bisa mempelajari ilmu pengetahuan, kemahiran dan kecenderungan baru. Suatu ciri yang berkaitan paling erat dengan kemampuan berbahasa ialah kemampuan menjelaskan, atau menerangkan akan maksud yang tersemat dalam hati atau fikiran. Suatu ciri lain yang terkait ialah daya menamakan sesuatu dan menggunakannya. Daya mencipta arti yang ma’nawi dan memahami pengertian tersebut sedangkan malaikat sendiri tidak memilikinya.
4.      Kepercayaan Bahwa Manusia Mempunyai Tiga Dimensi
Manusia mempunyai tiga dimensi persis seperti segitiga, yang sama panjang sisi-sisinya, yaitu badan, akal dan ruh. Ini adalah dimensi pokok dalam kepribadian manusia. Kemajuan, kebahagiaan dan kesempurnaan kepribadian manusia banyak bergantung kepada keselarasan dan keharmonisan antara tiga dimensi pokok tersebut. Islam tidak dapat membenarkan akal merajalela. Atau ilmu-ilmu melulu menguasai kehidupan tanpa kendali, atau berkembangnya faham kebendaan yg sempit. Islam berpendapat bahwa manusia hanya akan maju dengan adanya iringan akal dan ruh atau ilmu dan iman.
5.      Meyakini bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian warisan dan lingkungan.
Warisan dan lingkungan mempengaruhi manusia dan berinteraksi dengannya sejak hari pertama ia menjadi embryo hinggalah ke akhir hayat. Warisan yang dimaksud di sini ialah keturunan, seperti kecerdasan dan yang dimaksud dengan lingkungan ialah ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan manusia yang menjadi medan aneka bentuk kegiatannya. Seperti air, udara, bumi, langit, matahari, dan sebagainya.[16]

E.     Tanggung Jawab Manusia
Dalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki tanggung jawab yang harus diembannya atas segala perbuatan yang telah dilakukannya. Manusia itu mengerti tabiat yang terdapat dalam perbuatannya, yang sesuai atau yang tidak sesuai dengan kodratnya. Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa yang seindah-indahnya dilengkapi dengan akal, panca indra dan hati agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu.
            Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT. menciptakan manusia bukan secara main-main melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Kesatuan wujud antara fisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan al-taqwim dan menempatkan manusia pada posisi yang strategis yaitu :
1.      Manusia sebagai hamba Allah (‘abd Allah)
            Kedudukan sebagai hamba Allah ini memang menjadi tujuan Allah menciptakan manusia dan makhluk-makhluk lainnya.



Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Konsep ’abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT yang meliputi seluruh aktivitsnya dengan penuh keihkhlasan. Islam menggariskan bahwa seluruh akivitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang ditujukan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan ridho-Nya.
            Musa Asy’arie mengatakan bahwa makna dari kata ‘abd adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang hanya layak diberikan kepada Tuhan. Ketundukan dan ketaatan pada kodrat alamiah yang senantiasa belaku bagi-Nya. Ia terikat oleh hukum-hukum Tuhan yang menjadi kodrat pada setiap ciptaannya, manusia menjadi bagian dari setiap ciptaa-Nya, ia tergantung pada sesamanya, hidup dan matinya menjadi bagian dari segala yang hidup dan mati. Sebagai hamba Allah manusia tidak bias terlepas dari kekuasaan-Nya, karena manusia mempunyai fitrah (potensi) bergama. Yang mengakui adanya kekuatan diluar dirinya.
2.      Manusia sebagai khalifah fil-ardh
Kata khalifah berasal dari fiil madhi Khalafa yang berarti mengganti dan melanjutkan. Jadi khalifah yaitu proses penggantian antara satu individu dengan individu yang lain. Sebagai seorang khalifah ia berfungsi menggantikan orang lain dan menempati tempat serta kedudukan-Nya. Ia menggantikan orang lain menggantikan kedudukann kepemimpinannya atau kekuasaanya.
Manusia di dunia ini adalah sebagai wakil Allah SWT.






Artinya : “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah : 30)
Sebagai pengganti dan penerus generasi yang sebelumnya, dan sebagai pewaris-pewaris dimuka bumi sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. An-Naml : 62.
Artinya  : “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (Q.S. An-Naml : 62)
Di samping itu, manusia adalah pemikul amanah yang semula ditawarkan pada langit, bumi, dan gunung, namun mereka semua enggan menerimanya. Namun dengan keterbatasannya manusia mau menerima amanah itu seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab : 72, serta menjadi pemimpin atas diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. [17]


Artinya :“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S. Al-Ahzab : 72)
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat. Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di bumi. Karena amat mulianya manusia mengeban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Manusia disamping memiliki status sebagai makhluk dan bagian dari alam, ia juga mempunyai tugas sebagai khalifah/penguasa di muka bumi. Denga n pengertian bahwa manusia itu dibebani tanggung jawab dan anugerah kekuasaan untuk mengatur dan membangun dunia ini dalam berbagai segi kehidupan, dan sekaligus menjadi saksi dan bukti atas kekuasaan Allah SWT di alam jagat raya ini.
Menurut Ahmad Musthafa Al Marghi, kata khalifah dalam ayat ini memiliki dua makna. Pertama, pengganti yaitu pengganti Allah SWT dalam menjalankan titahnya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.
Tugas kekhalifahan yang dibebankan kepada manusia itu banyak sekali, tetapi dapat disimpulkan dalam tiga bagian sebagaimana yang ditulis oleh Abu Bakar Muhammad, yaitu :
1.      Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi menuntut ilmu yang berguna dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia
2.      Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga dengan jalan membentuk rumah tangga bahagia, menyadari dan melaksanakan tugas dan kewajiban rumah tangga sebagai suami isteri dan orang tua
3.      Tugas kekhalifahan dalam masyarakat, dengan mewujudkan persatuan dan kesatuan, menegakkan kebenaran dan keadilan sosial, bertanggung jawab dalam amar ma’ruf dan nahi munkar dan menyantuni golongan masyarakat yang lemah.[18]
Implikasi dalam pendidikan Islam berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah, yaitu memberikan sumbangan antar manusia dan antar umat untuk hidup saling mengisi, dan melengkapi kekurangan masing-masing, menjadikan alam sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, objek pendidikan, alat pendidikan serta media pendidikan, melatih manusia menjadi pemimpin dengan mengelola alam semesta beserta isinya sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT, dan melatih sikap dan jiwanya sebagai manusia[19].
Berdasarkan paparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa manusia diberi tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi adalah untuk mengemban tanggung jawab yang telah diberikan oleh Allah SWT serta mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya, sekaligus mengelola dan memanfaatkan alam semesta beserta seluruh isinya sebagai sarana yang digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Manusia menurut manusia adalah makhluk rasional, manusia itu bebas bertindak berdasarkan alasan moral, manusia bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Manusia menurut manusia juga bagaikan kertas putih yang kosong, yang dalam perjalanan hidupnya terisi dengan pengalaman-pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Sedangkan manusia menurut Tuhan adalah manusia yang berasal dan akan kembali kepada Tuhan yang memiliki unsur hakikinya sebagai manusia yaitu berupa jasmani, akal, dan ruh.
2.      Manusia menurut beberapa ahli terbagi menjadi lima, yaitu manusia menurut ilmu Antropologi, manusia menurut ilmu Sosiologi, manusia menurut ilmu Psikologi, manusia menurut para Filsuf, dan manusia menurut dalam perspektif Islam. Manusia menurut ilmu Antropologi adalah individu yang bersal dari sesuatu yang sangat sederhana kemudian berevolusi menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia menurut ilmu Sosiologi adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian dan memerlukan orang lain untuk bersosialisasi. Manusia menurut ilmu Psikologi terbagi menjadi tiga teori yang ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Manusia menurut para Filsuf adalah makhluk yang dapat berpikir, dan dengan berpikirnya ini, manusia menunjukkan eksistensi dan perannya. Sedangkan manusia menurut Al-Qur’an disebutkan dalam beberapa kata seperti al-basyar, al-insaan, al-ins, al-naas, dan bani Adam/dzuriyat Adam.
3.      Implikasi konsep manusia dalam pendidikan Islam adalah manusia merupakan makhluk yang menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah pengembangan potensi yang dimilikinya serta mewujudkan fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘Abd.
4.      Yang menjadi prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia adalah kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk termulia di dalam jagat raya, kepercayaan akan kemuliaan, kepercayaan bahwa manusia mempunyai tiga dimensi, dan meyakini bahwa manusia dengan seluruh perwatakan dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian warisan dan lingkungan.
5.      Tanggung jawab manusia di dunia ini ada dua yaitu yang pertama sebagai khalifah di muka bumi yang mengelola alam semesta sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, dan yang kedua adalah sebagai hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah sebagai wujud dari rasa syukur.

B.     Saran
Penting untuk kita mengerti dan mengetahui tentang manusia dalam pandangan filsafat pendidikan Islam karena manusia merupakan objek dalam filsafat, terlebih lagi dalam dunia pendidikan Islam.











DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim
Abd. Aziz. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : TERAS, 2009
Abu Bakar Muhammad, Membangun Manusia indonesia Seutuhnya Menurut Al-    Qur’an, Surabaya : Al-Ikhlas, 2003.
Al-Syaibany , Omar Mohammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan       Bintang, 1979.
Idi, Abdullah dan Jalaludin, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan),                       Jakarta : Rajawali Pers, 2013.
Mutahhari, Murtadha, Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan Agama, Bandung :             Mizan
Nata, Abuddin, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, Jakarta : Rajawali Pers,                    2012.
Nizar, Samsul dan Al-Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat : Ciputat           Press, 2005.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya,        2008.




[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam : Integrasi Jasmani, Rohani, Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung : Remaja Rosdakarya, h. 8.
[2] Ibid, h. 8.
[3] Ibid, h.14
[4] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, Jakarta : Rajawali Pers. h.66
[5] Jalaludin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan), Jakarta : Gaya Media Pratama, h.107
[6] Ibid
[7] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, Jakarta : Rajawali Pers.. h.67
[8] Ibid, h. 68
[9] Ibid
[10] Ibid, h.73
[11] Murtadha Mutahhari, Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan Agama, Bandung, Mizan, h.117
[13] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami : Integrasi Jasmani, Rohani, Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung : Rosdakarya, h.20
[14] Ibid, h.21
[15] Al-Rasyidin-Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat : Ciputat Press. h.23
[16]  Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, h.136
[17] Abd. Aziz. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : TERAS, 2009, h. 60
[18] Abu Bakar Muhammad, Membangun Manusia indonesia Seutuhnya Menurut Al-Qur’an, Surabaya : Al-Ikhlas, h. 203
[19] Abd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : TERAS, 209, h. 65